BLOGGER TEMPLATES Funny Pictures

Sabtu, 15 Februari 2014

BTS of Matrikulasi



          IPB memang kampus spesial, beerbeda dari kampus-kampus lain. Di IPB, mahasiswa baru  yang diterima lewat jalur undangan berhak mendapat matrikulasi selama sebulan. Matrikulasi merupakan kuliah ‘hadiah’ bagi mahasiswa yang diterima via jalur SNMPTN untuk meringankan beban kuliah di masa kuliah reguler nanti (kalau lulus).  Hanya ada empat macam mata kuliah yang diberikan untuk matrikulasi, yaitu Landasan Matematika, Fisika, Fisika Dasar, dan Kimia Umum. Pembagian Mata Kuliah tersebut sesuai dengan Fakultas masing-masing. Untuk Landasan Matematika (kelas P): Faperta, FKH, FPIK (kecuali ITK), Fapet, Fahutan (kecuali MNH), Biologi, dan Ilmu Gizi; Fisika (kelas Q): Manajemen Hutan, FATETA, dan FMIPA (kecuali Biologi dan Fisika); Fisika Dasar (kelas Q): ITK dan Fisika; Kimia Umum (kelas R & S): FEM dan FEMA (kecuali Ilmu Gizi).
Sesuai dengan jurusan saya, Teknologi Industri Pertanian (FATETA), saya mendapat mata kuliah fisika untuk matrikulasi. Menurut pendapat kakak-kakak kelas, mata kuliah fisika dan fisika dasar memang yang paling berat dan padat. Ada kuliah, responsi, dan praktikum. Bahkan hari Sabtu pun tetap ada kuliah. Tapi ada untungnya juga, kalau sudah lulus di matrikulasi jadi lebih ringan di kuliah reguler nanti karena berkurang 3 SKS.
 Matrikulasi dimulai hari Senin, 1 Juli 2013 sampai 30 Juli 2013, sebulan penuh. Saya mendapat kelas di Q02. Hari pertama masuk, kami disambut oleh dua kakak senior yang memberi bimbingan tentang sistem kuliah di sini.  Kami juga melakukan pemilihan Komti (komandan tingkat), semacam ketua kelas kalau di sekolah. Jujur saya saat itu saya masih bingung, belum mengenal siapapun. Tidak ada teman selorong maupun sedaerah yang sekelas. Saya juga bukan tipe anak yang mudah bergaul, kecuali orang lain yang mendekati saya lebih dulu.
Hari itu juga, saya langsung mendapat kuliah dari Dosen. Tidak ada santai-santai hari pertama seperti masa-masa sekolah dulu. Beruntung, saya mendapat Dosen yang enak dan baik, Pak Dahlan. Beliau sangat pintar dan berwibawa, dalam menerangkan juga cukup jelas. Kadang-kadang dalam kuliah, beliau menyisipkan pesan-pesan moral untuk pendidikan karakter maupun akhlak kami. Benar-benar tidak seperti dugaan awal saya yang mengira Dosen hanyalah pengajar bukan pendidik. Ternyata, cita-cita awal beliau memang menjadi seorang Guru, bukan Dosen.
Di kelas saya, ada sekitar 60-an anak yang dominan dari FATETA dan FMIPA. Kami dibagi ke dalam kelompok-kelompok tugas yang berjumlah sepuluh orang dalam satu kelompok. Pembagian kelompok tersebut berdasarkan pada urutan NIM, kebetulan kelompok saya terdiri dari anak-anak ITP dan TIN, 3 laki-laki dan 7 perempuan termasuk saya. Dari tampang, saya bisa melihat mereka adalah anak-anak pintar. Saya pun minder. Tapi mereka baik dan tidak sombong. Saya jadi termotivasi untuk lebih giat belajar.
Setiap kuliah, kami diberi tugas yang harus dikumpulkan sebelum kuliah selanjutnya dimulai. Saat itu benar-benar masa-masa sibuk, karena kami hampir setiap hari kerja kelompok untuk mengerjakan tugas. Berbeda dengan anak LM yang tak sesibuk ini, apalagi Kimum yang hanya kuliah 3 hari dalam seminggu tanpa responsi dan praktikum. Anak-anak kelas Q memang perlu perjuangan dan tenaga lebih dari yang lain, tapi saya bangga menjadi anak kelas Q. J
Selain tugas kuliah, kami juga diberi tugas praktikum berupa Tugas Pendahuluan sebelum praktikum dan laporan sesudah praktikum. Nah, tugas laporan inilah yang cukup menguras tenaga, karena setiap minggu ada dua laporan yang harus dikumpulkan. Tapi masih mending dibandingkan saat di akuliah reguler nanti. Jadi bersyukurlah bagi yang mendapat matrikulasi fisika. Pasalnya, anak-anak non undangan yang mendapat mata kuliah fisika di reguler selain Tugas Pendahuluan dan laporan juga harus membuat rancangan kerja.
Dalam praktikum, satu kelas dibagi menjadi dua lab, dan satu lab dibagi menjadi 11 kelompok. Kebetulan, saya satu kelompok dengan orang Batak dan orang Bogor. Setiap praktikum, ada kakak Asprak (asisten praktikum) yang mendampingi kami. Beruntung, kelas kami mendapat kakak-kakak asprak yang baik. Nilai praktikum benar-benar sangat membantu nilai akhir, yang penting kita serius mengerjakan laporan dan tugas, serta berkelakuan yang baik,
Tepat hari Minggu tanggal 7 Juli 2013, saya bersama teman-teman lorong jalan-jalan ke pasar kaget di sebelah kampus. Setiap hari Minggu memang selalu ada pasar kaget yang berdiri di pinggir jalan, tepatnya di Bara (Babakan Raya). Jalan Bara yang sudah sempit pun bertambah sesak. Hari itu pertama kalinya saya kesana karena penasaran dengan harga-harganya yang katanya murah. Saya pun membeli toples kecil dan hanger. Kemudian saya dan teman-teman melihat-lihat lapak-lapak yang ada di sana. Memang lumayan murah sih, tapi entah dengan kualitasnya.
Dalam perjalanan, saya sengaja memindahkan HP dari saku celana ke kantong tas saya, karena takut terjatuh jika diletakkan di saku. Namun sayangnya, saya terlalu ceroboh. Saat saya sadar, HP itu sudah hilang dari saku tas beserta uang 21ribu. Tidak salah lagi, pasti dicopet, karena tak lama kemudian nomernya sudah tidak aktif lagi. Walaupun HP saya gak bagus-bagus amat, tapi yang paling disayangkan adalah nomernya, kontak, dan kenangannya (:v). Mungkin ini pertanda saya harus move on (eh). Untungnya saya tidak menaruh dompet di saku kecil, tapi di saku dalam. Kalau dompetnya juga ikut hilang, entah apa jadinya saya. Untungnya lagi, saya masih punya satu HP, walaupun jadul. Ya, segalanya memang harus disyukuri. Kenyataan sepahit apapun, pasti ada hal kecil yang patut untuk disyukuri.
Tanggal 10 Juli 2013, hari pertama di bulan Ramadhan. Kali pertama saya melewati Ramadhan tanpa keluarga. Kali pertama saya menikmati Ramadhan sebagai “insan asrama” bersama keluarga baru saya di sini. Ramadhan kali ini memang bukan Ramadhan biasa. Saya menemukan esensi berbeda, yang cukup mendalam dari Ramadhan kali ini. Mungkin karena suasana kampus terutama asrama yang begitu religius. Setiap sahur ada yang membangunkan, sahur bersama, sholat subuh berjamaah dilanjut membaca Al Ma’surat, buka bersama, sholat isya dan tarawih berjamaah, serta tausyiah. Banyak sekali ilmu dan hikmah yang saya dapatkan di sini.
Saya jadi teringat saat Bulan Ramadhan di rumah, setiap hari Ibu selalu memasak untuk sahur dan buka puasa. Masakan ibu memang paling juara. Tapi di sini, saya harus mencari makan sendiri untuk buka puasa. Untungnya untuk sahur ada jasa catering yang siap mengantar makanan sampai kamar. Saya bersyukur bisa merasakan matrikulasi di sini.
Bulan Ramadhan di IPB semakin berkesan dengan adanya UTS dan UAS. Baru dua minggu kuliah, kami sudah harus menghadapi UTS. Rasanya waktu seperti berputar lebih cepat. UTS adalah ujian pertama kami di IPB. Karenanya, kami harus mempersiapkan dengan matang, benar-benar dengan matang. IPB merupakan kampus bersih, termasuk bersih dari kecurangan akademik atau mencontek. Karena itu, tidak ada yang bisa diandalkan selain diri sendiri. Mencontek adalah hal paling fatal jika dilakukan di IPB. Itulah yang membuat saya nyaman berada di sini. Saya merasa semuanya adil karena hasil ujian adalah hasil kerja keras kita sendiri. Memang saya bukan yang terbaik, saya juga bukan yang paling pintar, tapi saya merasa ikhlas ujian karena di sekitar saya tidak ada kecurangan. Inilah keadaan yang saya dambakan dari dulu.
Dua minggu kemudian, UAS pun datang. Saya merasa senang sekaligus sedih. Senang karena sebentar lagi pulang, dan sedih karena UAS yang berarti kebersamaan kami selama sebulan akan terpisah sementara. Padahal saya sudah mulai nyaman berada di sini. Tapi, saya sangat rindu keluarga saya.
Tanggal 31 Juli, saya pun pulang ke Banjarnegara bersama teman-teman dan kakak-kakak IKAMABARA. Kepulangan saya disambut suka cita oleh keluarga saya. Saya senang, terharu, karena saya telah melaksanakan matrikulasi dengan hasil yang cukup baik. Alhamdulillah saya mendapat AB, walaupun mepet-mepet, hehe. Saya bersyukur bisa merasakan matrikulasi. Mungkin teman-teman yang lain masih berkumpul dengan keluarganya, masih santai liburan di rumah, masih tanpa beban kuliah. Tapi saya di sini sudah memulai dulu, memulai hidup dengan keluarga baru.
Sebulan matrikulasi yang sangat berarti. Tiga minggu Ramadhan sebagai insan asrama. Sungguh, pengalaman yang takkan terlupakan. Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari Generasi Emas IPB. Saya pun yakin akan ada banyak pengalaman di depan saya nanti. Inilah jembatan saya, jembatan untuk menuju masa depan saya yang cemerlang. Semoga Allah senantiasa membimbing dan memudahkan jalan saya. Aamiin.

251213

The Reason I choose IPB

                Masa-masa kelas XII adalah masa-masa galau menentukan masa depan. Pertanyaan tentang masa depan dan perguruan tinggi tujuan datang bertubi-tubi, entah dari orang lain, maupun dari diri sendiri. Bagi yang sudah matang merencanakan masa depan mungkin bisa dengan enteng menjawabnya. Tapi bagi yang belum, apakah kalian merasa kesal dihantui pertanyaan serupa hampir setiap hari?
                Saya juga sama. Dulu, saya juga sempat galau menentukan tempat di mana saya akan melanjutkan belajar. Sebenarnya dari kelas X saya sudah mantap ingin masuk jurusan Teknik Informatika. Tapi lama-lama saya bosan belajar informatika yang penuh dengan algoritma dan semacamnya yang membuat saya pusing . Saya pun beralih minat ke psikologi, karena saya memang suka menjadi tempat curahan hati teman. Tapi melihat peluang ke depannya, sepertinya menjadi psikolog tidak begitu menjamin untuk saya. Pasalnya, menjadi psikolog hanya cocok bila di kota-kota besar. Sedangkan saya tidak berminat tinggal di kota besar, saya hanya ingin tinggal tenteram mengabdi di Banjarnegara (cie). Jadi kemungkinannya kecil orang-orang desa mencari psikolog saat bermasalah.
                Selain itu, saya juga ingin masuk Sastra Nusantara UGM. Kedengarannya keren ya sastra nusantara gitu. Tapi masuk sastra, mau jadi apa? Saya pikir, masuk sastra kalau cuma punya bakat setengah-setengah akan sia-sia. Sastrawan terkenal adalah para sastrawan yang hebat-hebat di bidangnya. Kalau saya, saya bisa apa? Lagi pula, di jalur SNMPTN undangan tidak diperbolehkan untuk lintas jurusa. Karena saya dari IPA, jadi saya harus memilih jurusan di bidang IPA juga. Saya pun harus mengubur keinginan saya terhadap jurusan-jurusan bidang IPS. Btw saya juga sempat tertarik jurusan Ilmu Komunikasi, padahal saya kurang suka berbicara di depan umum.
                Waktu pendaftaran SNMPTN pun semakin dekat, dan saya belum memutuskan perguruan tinggi dan jurusan apa yang akan sayaa ambil. Saya pun banyak berdiskusi dengan orang tua, teman, kakak kelas, dan mencari info-info dari internet. Orang tua saya menyerahkan penuh keputusan kepada saya, mereka tidak ingin memaksa saya menjadi apa yang mereka mau. Mereka hanya mengarahkan yang terbaik untuk saya sesuai pilihan hati saya sendiri. Tapi ayah saya menyarankan untuk menjadi guru. Mungkin beliau ingin saya mendapat pekerjaan yang pasti dan jadi PNS. Memang sih guru adalah pekerjaan yang mulia. Tapi saya merasa passion saya tidak di situ. Namun saya tetap memilih Universitas dengan jurusan pendidikan, walaupun hanya di pilihan ke dua.
                Sementara itu, saya masih bingung memikirkan perguruan tinggi mana yang akan saya jadikan pilihan pertama. Kalau secara kualitas dan ketenaran, saya memang berniat memilih UGM. Apalagi melihat jejak kakak-kakak kelas saya yang banyak diterima di sana, saya menjadi percaya diri hehe. Namun entah kenapa sangat sulit menentukan jurusan yang sesuai dengan hati saya. Saya sempat berkali-kali berubah pikiran tentang jurusan yang akan saya pilih di UGM. Ingin kehutanan, tapi takut berat fisiknya. Ingin ilmu komputer, tapi takut ribet. Ingin kedokteran hewan, tapi takut ular. Akhirnya, saya berniat memilih  jurusan di bidang pertanian, yaitu Agribisnis dan Agronomi, ya walaupun masih ragu-ragu.
                Selang beberapa hari kemudian, sebuah pencerahan datang. Tim sosialisasi dari IPB datang SMA saya bersama para alumni SMA yang sekarang berkuliah di IPB. Spesialnya lagi, Rektor IPB yang merupakan alumni SMA N 1 Banjarnegara turut hadir menjadi pembicara dalam sosialisasi dan menjadi pembina upacara. Saya begitu terkesan dengan pembawaannya yang kharismatik dan wibawanya yang keluar saat berbicara di depan umum. Saya terbius oleh kata-katanya. Saya terharu, beliau yang seorang anak dari desa di sebuah kabupaten kecil Banjarnegara, yang tidak banyak orang tau, ternyata sanggup menjadi Rektor IPB, salah satu perguruan tinggi terbesar di Indonesia. Dan entah kenapa saya sempat meneteskan air mata (ini rahasia ya :malu: ). Mungkin bisa dibilang lebay, tapi saya memang merasakan sesuatu yang aneh, yang merasuk diri saya, yang membuat saya tergugah untuk meraih cita-cita saya setinggi mungkin dan tergugah untuk memajukan pertanian demi kelangsungan hidup bangsa yang lebih baik.
                Saya sadar, pertanian memegang peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Tanpa pertanian, orang tidak punya bahan untuk dimakan. Kalau sudah begitu, mungkin lama-lama orang akan mati kelaparan. Namun sayangnya, sektor pertanian di negeri ini masih dalam kondisi yang memprihatinkan. Banyaknya impor bahan pangan dari luar negeri sangat kontras dengan Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris. Mungkin lama-kelamaan Indonesia bukan negara agraris lagi. Belum lagi keadaan petani yang jauh dari sejahtera menyebabkan banyak orang lebih memilih untuk bekerja di sektor lain daripada menjadi seorang petani. Lalu, siapa lagi yang akan mengolah lahan pertanian? Lahan pertanian pun dikonversi menjadi bangunan-bangunan, permukiman, jalan tol, dsb. Maka tidak heran jika kondisi pertanian menjadi mengkhawatirkan.
                Selama menjadi anggota Kelompok Ilmiah Remaja di SMA, bidang yang paling sering saya teliti adalah bidang pertanian. Saya melakukan penelitian pada lahan kentang di Dieng. Dari situlah saya melihat langsung betapa beratnya tanggungan petani sedangkan apa yang mereka dapatkan sangat sedikit. Oke lah tidak usah berpanjang-panjang lagi menceritakan tentang mirisnya kondisi pertanian, intinya saya ingin terjun ke bidang pertanian, mengubah pertanian dan para petani menjadi lebih sejahtera.
Mungkin banyak yang menganggap pertanian adalah sesuatu yang kuno, tidak ngetrend, dan kotor.  Tapi saya memandang sektor pertanian mempunyai peluang yang cukup besar. Apalagi melihat banyak alumni IPB yang menjadi orang besar, sudah tidak diragukan lagi kualitas IPB terutama di bidang pertanian.
                Saya mulai memantapkan hati untuk memilih IPB. Hanya satu hal yang membuat saya galau: jarak. Banjarnegara-Bogor jaraknya lumayan jauh, sekitar 12 jam jika ditempuh dengan bis. Dibandingkan dengan Bogor, Yogyakarta atau Semarang memang lebih terjangkau bagi saya, apalagi saya sering sakit dan tak bisa jauh dari orang tua. Tapi orang tua saya meyakinkan saya kalau saya bisa dan saya kuat. Ya, merekalah kekuatan terbesar saya.
                Tanggal 19 Februari 2013, tepat hari ulang tahun yang ke-18, saya mendaftar SNMPTN. Setelah berhari-hari melakukan sholat istikharah dan mempertimbangkan matang-matang, akhirnya saya mantap memilih IPB di pilihan pertama dengan prodi Teknologi Industri Pertanian – Agronomi dan Hortikultura. Sementara di pilihan kedua, saya memilih Pendidikan Kimia – Pendidikan Matematika UNNES.
                Tepat hari Senin, 27 Mei 2013, hasil SNMPTN diumumkan. Waktu itu bertepatan dengan hari pelepasan dan wisuda di SMA saya. Pukul 16.00 saya membuka web SNMPTN, dan Alhamdulillah saya diterima di IPB jurusan Teknologi Industri Pertanian, pilihan pertama saya. Sementara itu, beberapa hari sebelumnya saya juga dinyatakan lolos seleksi tahap I STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistika).
                Memang sudah takdir saya untuk berada di IPB, saya tidak lolos seleksi tahap II STIS. Saya tidak menyesalinya, karena saya sudah terlanjur cinta dengan IPB. Bagi saya, IPB adalah tempat terbaik. IPB adalah jembatan yang harus saya lalui untuk meraih mimpi-mimpi saya dan memajukan bangsa Indonesia, terutama di bidang Pertanian. Semoga Allah memeluk mimpi-mimpi saya dan memudahkan saya untuk meraihnya. Aamiin.

Rabu, 25 Desember 2013

SATU ALASAN




            “Aku suka sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacarku?”
            “Maaf, aku nggak bisa. Aku nggak mau pacaran sebelum lulus SMP.”
            Aku tertawa sendiri mengingat kejadian-kejadian sewaktu SMP dulu. Ungkapan perasaan dan jawaban yang masih sangat polos waktu itu. Ya, ‘Aku nggak mau pacaran sebelum lulus SMP’. Kalimat itulah yang selalu kugunakan setiap kali adacowok yang mengungkapkan perasaannya kepadaku. Mungkin itu adalah alasan yang sangat klasik, tapi nyatanya aku bisa memegang pendirian itu sampai lulus SMP. Bahkan sampai sekarang, saat aku sudah duduk di kelas 2 SMA.
            “Raya!” teriak Rani, teman sekelasku, sambil menghampiriku yang duduk  di bangku pojok. Mukanya langsung ditekuk begitu duduk di kursi sebelahku.
“Kenapa lagi Ran? Ada masalah lagi sama Adit?” tanyaku menyelidik.
Benar saja seperti dugaanku, Rani memang ada masalah dengan pacarnya,  Adit yang juga sahabatku. Dan seperti biasa,  dia selalu meluapkan keluh kesahnya padaku. Aku memang sering menjadi tempat curhat bagi teman-ipercintaan dan pacaran. Kadang aku heran,  kenapa mereka malah curhat padaku dan tak jarang mengikuti saran yang kuberikan,  padahal aku sama sekali tak berpengalaman soal cinta apalagi pacaran. Pasalnya,  aku sendiri belum pernah mencicipi bagaimana rasanya pacaran.
“Ya,  gimana kamu sama Gilang? Dia masih suka ngejar-ngejar kamu?”  tanya Rani mengalihkan pembicaraan.
“Nggak kok, udah nyerah dia.”
“Kamu apain dia? Kok bias sampe nyerah gitu? Haha.”
“Aku ngomong langsung aja kalo aku nggak suka dia.  Kalo dia masih ngejar-ngejar terus, aku bakal benci sama dia.”
“Bukannya dulu kamu bilang mau fokus ke pelajaran aja?”
“Itu sih alasan klasik Ran. Aku emang nggak suka kok.”
“Gila Ya, itu nyakitin banget tau! Ckck.”
“Yah habisnya aku udah bingung mau nyari alasan apa lagi.”
***
Malam ini mataku tak bias terpejam, padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul 01:00 dini hari. Pikiranku tertuju pada Fandy, cowok yang  tiba-tiba menembakku lewat sms tadi sore. Jelas saja aku langsung menolak,  nggak serius banget nembak kok lewat sms. Yah secara tampang sih dia memang lebih oke disbanding cowok-cowok yang pernah menembakku sebelumnya,  tapi aku belum terlalu mengenalnya. Aku bilang kalau aku belum diizinin pacaran.
Akujadiingatperkataan temanku Adit tempo hari, ‘Hati-hati kena karma lho.’. Apa aku akan kena karma karena kelakuanku ini? Tapi apa salahnya nolak sih? Itu kan hakku, kenapa aku yang salah?
Aku mengambil buku harian kecil yang berisi coretan tentang perasaanku. Lembar demi lembar aku buka. Di sinilah aku menyembunyikan rahasiaku selama ini. Buku ini adalah jawaban dari alasan-alasan yang aku kemukakan untuk menolak mereka yang ingin menjadi kekasihku. Di antara banyak alasan yang aku ungkapkan, sejatinya hanya satu alasan yang menjadi sumber dari alasan itu, yaitu dia.
Dia, yang selama 7 tahun ini menjadi objek utama tulisan-tulisan di buku harianku. Dia, yang sudah 7 tahun ini aku cintai diam-diam. Dia, yang sudah kukenal lebih dari separuh usiaku. Dia, sahabat kecilku, cinta pertamaku.
Memang tak ada orang lain yang tau tentang perasaanku ini, termasuk dia. Aku sendiri juga tak ada niat untuk mengungkapkannya. Bagiku, bersahabat dengannya saja sudah lebih dari cukup. Walaupun kadang sakit juga memendam perasaan ini seorang diri terlalu lama.
***
Pagi ini begitu terik, padahal jam di tanganku masih menunjukkan pukul 06:45. Aku berjalan santai menuju sekolah begitu turun dari angkot. Tapi tiba-tiba seseorang mengagetkanku dari belakang.
“Aya!” Suara itu...
Aku menoleh ke belakang. Ternyata benar dia. Aku segera menyembunyikan rasa gugupku dan tersenyum lebar ke arahnya.
“Eh Ryan, tumben nggak bawa motor?” tanyaku.
“Iya nih, motorku lagi diservice. Tumben berangkat pagi Ya?”
“Jam segini pagi?”.
“Haha iya kan biasanya kamu telat.” candanya
“Haha iya sih.” Kami pun berjalan berdampingan sampai sekolah. Tak banyak obrolan yang mengalir, karena kami berdua sama-sama pendiam.
“Ya udah, aku duluan ya.” kataku begitu sampai di tangga depan kelas.
“Iya, yo Ya.” Dia pun kembali berjalan menuju kelasnya yang berada di lantai 3, persis di atas ruang kelasku.
“He’em.” jawabku datar.
Aku masuk ke ruang kelas dengan senyum lebar. Aku senyumi setiap anak yang kulewati. Aku tak bisa lagi membendung kebahagiaanku, walaupun cuma sebentar bersama dia. Iya, dia Ryan, cinta pertamaku sekaligus sahabatku sejak kecil.
“Lagi kenapa sih Ya? Tumben sumringah banget.” selidik Rani begitu aku duduk di sebelahnya.
“Nggak kenapa-kenapa kok.” jawabku sembari menjulurkan lidah ke arahnya.
“Ih nyebelin, ada apaan sih? Gitu ya, nggak cerita-cerita.” sungutnya.
Aku mengambil novel yang kubawa dari rumah dan mulai membaca. Rani yang masih mengoceh tak begitu kupedulikan. Walaupun mataku menuju ke halaman novel, tapi pikiranku masih tertuju pada Ryan.
Aku heran, hal sesederhana itu bisa begitu membahagiakan bagiku. Mungkin karena selama ini kami sudah jarang berkumpul bersama sahabat-sahabat kecil lainnya.Aku, Ryan, Adit, Yoga, dan Manda adalah sekelompok sahabat sejak kecil. Kami sudah menjalin persahabatan sejak masih duduk di bangku TK karena rumah kami memang berdekatan satu sama lain. Tapi semenjak SMA, kami berlima terpisah sekolah. Hanya aku, Ryan, dan Adit yang berada di SMA yang sama. Sejak itu, waktu berkumpul kami memang semakin jarang karena kesibukan masing-masing.
Di antara kami berlima, Ryan dan akulah yang paling pendiam. Kadang aku menyadari kalau sifat kami berdua sangat mirip. Mungkin karena itu, tiap berada di dekatnya aku semakin speechless. Kadang aku juga heran kenapa aku punya perasaan spesial terhadapnya, padahal sahabat laki-lakiku dari kecil bukan cuma dia, bahkan ada yang lebih dekat daripada dia. Tapi entahlah, rasa ini seperti tak bisa kujelaskan secara logis.
***

            Bel istirahat pun berbunyi. Aku, Rani, dan Gilang bersama menuju kantin untuk jajan. Ya, aku dan Gilang memang sudah baikan lagi setelah aku menolaknya tempo hari.
            “Ya ampun mati gue!”
            “Kenapa Lang?” tanyaku bingung melihat Gilang yang tiba-tiba panik.
            “Aku belum ngerjain tugas Fisika!”
“Yee kirain ada apa, biasanya juga nggak ngerjain kan?” celetuk Rani.
“Itu dia, kemaren kan aku udah dimarahin gara-gara nggak ngerjain tugas. Eh Ya, aku minjem bukumu ya!”
“Ya udah sana, ambil aja di tas.”
Gilang pun segera berbalik kembali ke kelas. Sementara aku dan Rani tetap menuju ke kantin.
Kami segera kembali ke kelas begitu selesai membeli jajanan. Aku memang tak betah berlama-lama di kantin karena keramaiannya.
“Aya!” seru Gilang sambil menenteng sebuah buku kecil di tangannya.
Astaga! Itu buku harianku!
Aku segera merebut buku kecil itu dari tangan Gilang. Tapi tangannya yang lebih kuat dari aku menjadikan buku itu tak bisa kurebut. Dia langsung menyeretku keluar kelas.
“Sorry Ran, ntar aku jelasin.” kataku buru-buru. Sementara Rani yang masih heran membiarkan aku dan Gilang keluar.
Aku diam saja begitu kami sampai di belakang laboratorium fisika yang sepi. Gilang juga masih terdiam sambil menatapku, hingga membuat aku tak berani menatap wajahnya langsung.
“Aya..” panggilnya, kali ini tak sekeras tadi.
“Hmm?” Aku tak tau harus berkata apa. Dia pasti sudah tau semuanya tentang perasaanku. Aku hanya menunduk pasrah.
“Kamu..ternyata..?”
“Iya, kamu udah tau semuanya kan?”
“Kenapa kamu nggak cerita? Jadi selama ini kamu nggak pacaran gara-gara dia? Kamu nolak aku juga gara-gara dia? Tujuh tahun Ya, kamu nyimpen itu sendirian. Kenapa kamu nggak jujur aja?”
“Jangan! Jangan kasih tau dia Lang!” sergahku.
“Kenapa Ya? Kalo dia nggak dikasih tau, dia nggak bakalan sadar tentang perasaanmu. Apa perlu aku yang ngomong ke dia?”
“Tolong Lang, jangan kasih tau dia kalo kamu masih nganggep aku sahabatmu!”
“Tapi Ya, aku nggak tega kamu kayak gini terus. Aku rela kok kalo kamu sama dia, yang penting kamu bahagia Ya.”
“Ini perasaanku Lang, kamu nggak usah ikut campur. Aku nggak ingin dia tau tentang perasaanku. Makasih udah peduli sama aku, tapi tolong hargai aku.”kataku tegas sambil merebut buku harianku kembali kemudian berlalu meninggalkan Gilang sendirian.
Aku berjalan cepat-cepat sambil tertunduk menahan air mataku yang hampir jatuh. Jujur aku kecewa curahan isi hatiku dibaca oleh orang lain tanpa izin.  Aku ingin marah, tapi tak ada gunanya. Sudah tujuh tahun aku merahasiakan perasaanku, tapi sekarang orang lain sudah mengetahuinya. Rasanya seperti ditelanjangi. Malu.
Brukk!
Aku menabrak seseorang.
“Ya ampun Aya, sorry ya.” Suara itu..
“Eh Ryan, nggak pa-pa, aku yang salah nggak liat jalan.”
“Lho, kenapa Ya? Kamu abis nangis?”
“Enggak kok.” Aku buru-buru menghapus air mataku yang ternyata sudah jatuh. Tapi air mata yang lain rasasnya ingin menyusul begitu dia berada di hadapanku.
“Ada masalah ya? Cerita aja ayo, udah lama kan nggak cerita bareng. Sapa tau bebanmu jadi berkurang.” kata Ryan sambil tersenyum menenangkan.
Aku terpaksa mengikutinya duduk di sebuah bangku yang tak jauh dari kantin. Sebenarnya aku bingung, karena alasanku menangis adalah dia. Akhirnya aku mengarang cerita kalau aku dan Rani sedang ada masalah. Jujur, saat dia mendengarkan ceritaku, saat dia menenangkanku dan memberi saran padaku, aku tak bisa lagi membendung air mataku.
Ingin rasanya aku menangis di bahunya, menumpahkan air mataku di sana, menyerahkan perasaanku untuk diambilnya kembali. Tapi itu tak mungkin.
Aku masih ingat saat dia ditanya masalah pacaran oleh Adit waktu kami masih SMP dulu. Dia bilang, dia nggak akan pacaran sampai nikah nanti. Karena itu, aku ingin menyimpan perasaanku tanpa diketahuinya. Aku yakin semua pasti indah pada waktunya, hingga dia menjadi imamku nanti. Ya, semoga saja cinta pertamaku ini menjadi cinta sejati dan terakhirku.
“Makasih ya Yan.”
“Iya, nyantai aja Ya. Udah nggak usah nangis lagi.” katanya sambil menepuk pundakku.
Untuk pertama kalinya, tepukan pundak darinya terasa sampai menepuk hati. Apa dia mendengar suara hatiku tadi? Jangan-jangan dia tau perasaanku. Entahlah. Tapi aku tak berharap banyak bisa memilikinya untuk saat ini, aku hanya ingin menunggunya. Bagiku bersahabat dengannya sudah lebih dari cukup. Biarlah aku menyimpan perasaan itu sendiri, entah sampai kapan, selama aku masih kuat.
*****
#260611

Kembali Menulis

Saat Aku Kembali Menulis, aku merasa ini bukan aku yang dulu.
Aku tak mengenali tulisanku, aku tak percaya diri dengan tulisanku.
Sudah begitu lama aku tak bermain kata dalam tulisan.
Rasanya tulisanku seperti tak bernyawa.
Aku ingin kembali, kembali menulis seperti dulu.
Menulis apa saja tanpa takut jelek.
Menulis apa adanya sesuai hati.
Aku tak ingin lagi mengharapkan kesempurnaan dari tulisanku.
Aku hanya ingin menulis, menulis saja, meluapkan isi hati.

#281113